Selasa, 13 Juli 2010

GUNUNG TAMBORA

GUNUNG TAMBORA



gunung tambora
menyundul langit biru sumbawa
pagi hari mentari mengirim sinar
menerpa wajah hijau berseri
sore hari terpatri
cahaya layung ramping
kening gunung menjulang
menyimpan misteri
memendam materi
air bening mengalir
membelit tumit bukit
menururni lahan sawah
mengalu kesuburan
membuka kelopak senyum warga dusun
damai pun menyemai
di mana-mana

BANGSAKU

BANGSAKU

Fatima HR


dulu kami disakiti penjajah
sekarang kami memanen buah
dulu kami jadi romusha
ssekarang kami jadi pengusaha

aku bangga pada bangsaku
usai dibantai dan dihabisi
bangkit dengan semangat baru
dan berambisi

doa-doa ku menembus salju
tangis jerit yang dulu terngiang di telingaku
terkikis habis
melepas suram tangan meraih
di puncak gunung hati nurani

SALAM RINDU

SALAM RINDU

Gusriani


bersama angin kutitipkan
salam rindu untukmu
kucoba merangkai kata
sebagaia pencabut rindu
kasih...

kasih...
goreskan penamu
kabarkan tentangmu

rindu...
hanya salam rindu
yang dapat kusampaikan
oh...angin bantu diriku
tuk sampaikan salam

BERUCAP KATA

BERUCAP KATA

Irayani Yasin


kala senja datang menjemput
sang surya bercengkerama dengan alam
memasuki peraduan terakhir
berucap kata selamat tinggal matahari

langit biru bermandi jingga
bunga-bunga bernyanyi riang
menari dengan senyuman manis
berucap kata selamat datang bintang

waktu berlalu memudarkan jingga
burung senja berkicau riuh
mendendangkan musik alam
berucap kata selamat datang bulan

angin berhembus menyapu debu
menyejukkan hati sang pencinta
memuji keindahan alam
berucap kata selamat datang fajar

SURAT PERJANJIAN

SURAT PERJANJIAN

Zahratul Azizah


ibu,
ini kubawa sepiring kaktus
untuk makan malam kita
malam makin larut,ibu

tuangkan air matamu ke dalam gelas kaca
kita teliti gerakan busanya
lalu kita minum bersama-sama
agar kaktus tidak begitu busuk
agar mengeras baunya yang busuk

maaf,ibu...
sejak kecil aku selalu mengganggumu
menguras air susumu
menguras air matamu
bukan begitu maksudku

matahari yang salah,ibu
membakarku,merayuku,menghisapku
menerobos celah-celah dinding nuraniku
kau kini menangis
ketika sawah dan ladang kasih kita mengering

ibu...
saat aku kau sapih
aku merintih

bacalah suratku,ibu
kuselip suratku di balik kusen jendela
bacalah sepertiga malam
di bawah remang taplek musholla

MERPATI PUTIH

MERPATI PUTIH

Jayanti


kepak sayap merpati
menghapus pilu kita
putihmu suci
sesuci embun pagi
kepak sayap merpati
menghapus galau hati
merdu suara bernyanyi
menyejukkan nurani
memberi arti
tiap hari

SANG PENYIHIR

SANG PENYIHIR

sutardji calzoum bachri

bahasa malaikatmu membelai mesra
buah dada cakrawala
kau sihir awan menjelma air susu
kuhisap lewat lidah-lidah cemara
getar segar rasa berselendang air mata
aku terpukau membilang-bilang
pasir di pesisir batang-batang
sekecil alam di paras malam
dan kuhitung jerawat-jerawat langit
yang menetas dan mencuat madu
madu rindu di kelopak mawarku

MEMETIK BUKIT DI DADAMU

MEMETIK BUKIT DI DADAMU

Tati Suniarti


memetik bukit di dadamu
bayangan itu makin menebal
halaman hati terlukis wajah-wajah
aku terkesima

menanam rindu di lidahmu
pucuk-pucuk rasa
mengarung rindu-rindu
percik percaya belah cemburu
kemudian melumat resah yang
meleleh di keningmu

MENCINTAI KAMU

MENCINTAI KAMU

Tati Suniarti

mencintai kamu sama dengan mencintai angin
jika terlalu banyak
bisa masuk angin

mencintai kamu
seperti mencipta sajak
terus diendapkan
agar tak keruh jadinya

mencintai kamu,pacarku
serupa dengan menggenggam salju
hatiku kesemutan
engkau mengalir begitu saja

PENGANTIN JAGUNG

PENGANTIN JAGUNG

Bambang Widiatmoko


antara jagung bakar dan kematian
alangkah dekat partautannya
asap wangi yang menyebar ke udara
kurasakan seperti bau tulang yang terbakar

hendak kujemput bafas kehidupan
di bawah beringin alun-alun utara
tapi bau jagung yang terbakar
membakar habis tulang-belulang semesta

jiwaku hangus dalam kesendirian
cintamu membara dalam tungku perapian
dua buah jagung bakar tergeletak di tikar
seperti sepasang pengantin tanpa undangan

CAHAYA CINTA

CAHAYA CINTA

Bambang Widiatmoko


cahaya cinta berpendar keseluruh kota
seperti sekawanan burung bercanda
dengan segala suka cita
tak peduli langit milik siapa

tapi cahaya cinta yang tersimpan
rapat dalam hati dan perasaan
menyimpan rahasia yang selalu
padam dalam perasaan membeku

baru kali ini aku merasa
semesta tak lagi seperti dahulu kala
bersembunyi di balik kacamata
siapa kira tuhan tidak semakin tua?

SIHIR CINTA

SIHIR CINTA

Bambang Widiatmoko


permukaan air memantul seperti kaca
cermin jiwa ketika terluka
matahari tenggelam menjadi surga

mencari jatidiri yang terasing
menghadapi nasib yang terpelanting
adakah telaga bisa menjawabnya
setelah kubenamkan diri dalam airnya?

di telaga ini aku tak tahu pasti
membayangkan dirimu tetap merasa nyeri
arus percintaan kian sepi
biarlah tersihir dalam hakekat bumi